Pendahuluan
Penggabungan dua metode yang berbeda (kuantitatif dan kualitatif) dalam sebuah penelitian menjadi isu hangat ditahun-tahun terakhir, tetapi juga memunculkan permasalahan tersendiri antara paradigma-paradigma pada tingkat epistemologi dan teori. Hal ini tentunya juga dikarenakan literatur-literatur metodologi penelitian yang beredar lebih banyak mengupas tentang perbedaan kedua metode pendekatan tersebut daripada buku teks yang memberikan petunjuk untuk melakukan penelitian multi metode (metode ganda).
Tulisan ini tidak bertendensi untuk mengarahkan pikiran dan keputusan anda menuju kepada keharusan untuk melakukan penggabungan metode dalam sebuah penelitian, keputusan untuk hal ini tergantung dari paradigma dan teori yang dianut/digunakan serta masalah yang diteliti. Tulisan sederhana ini hanya mencoba mengupas, kemungkinan melakukan penggabungan dan teknik-teknik penggabungan metode dalam sebuah penelitian berdasarkan teori-teori yang ada. Dengan harapan dapat menambah khasanah keilmuan dalam melakukan penelitian.
Apa yang dimaksud dengan Pardigma?
Bogdan dan Biklen (1982:32) mendefinisikan paradigma sebagai kumpulan yang longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian. Sedangkan Kuhn (1962 dalam The structure of scientific revolutions mendeifinisikan paradigma ilmiah sebagai contoh yang diterima tentang praktek ilmiah sebenarnya, contoh-contoh termasuk hukum, teori, aplikasi, dan instrumentasi secara bersama-sama—yang menyediakan model yang darinya muncul tradisi koheren dari penelitian ilmiah.
Sementara itu, dari pandangan Kuhn diatas, Hormon (1970) mendefisinikan paradigma sebagai cara mendasar untuk mempersepsi, berpikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang visi realitas.
Capra (1996) mendefinsikan paradigma sebagai konstelasi konsep, nilai-nilai persepsi dan praktek yang dialami bersama oleh masyarakat, yang membentuk visi khusus tentang realitas sebagai dasar tentang cara mengorganisasikan dirinya.
Ihalauw (2000), mengemukakan konsep paradigma dalam dua pemahaman. Pertama, paradigma dipahami sebagai sebuah citra fundamental (baik yang sedang berlaku ataupun yang baru sebagai hasil dari revolusi keilmuan) dari permasalahan pokok dalam sebuah ilmu. Kedua, paradigma sebagai titik pandang disertai seperangkat asumsi yang merepresentasikan gagasan ilmiah.
Baker (1992) dalam Paradigms: The Business of Discovering the Futur mendefinisikan paradigma sebagai seperangkat aturan (tertulis atau tidak tertulis) yang melakukan dua hal: 1) hal itu membangun atau mendefinisikan batas-batas; dan 2) hal itu menceritakan kepada Anda bagaimana seharusnya melakukan sesuatu di dalam batas-batas itu agar bisa berhasil.
Berdasarkan beberapa definisi paradigma tersebut, dapat dipahami bahwa paradigma merepresentasikan landasan ontologi dan epistemologi suatu gagasan. Sebagai cara pandang atau citra fundamental, dalam paradigma tersurat dan tersirat gagasan apa yang harus diteliti dan bagaimana cara menelitinya.
Dalam perkembangannya, terdapat banyak macam paradigma, namun yang mendominasi ilmu pengetahuan sekarang ini adalah paradigma ilmiah (scentific paradigm) yang bersumber dari pandangan positivisme dan paradigma alamiah (naturalistic paradigm) yang bersumber dari pandangan fenomenologis.
Lincoln dan Guba (1985:37) memberikan perbedaan dua paradigma tersebut dari beberapa aksioma sebagaimana ditampilkan dalam tabel berikut:
Aksioma Tentang Paradigma Ilmiah Paradigma Alamiah
Hakikat kenyataan Kenyataan adalah tunggal, nyata dan fragmentaris Kenyataan adalah jamak, dibentuk, dan merupakan keutuhan
Hubungan pencari tahu dengan yang tahu Pencari tahu dan yang tahu adalah bebas, jadi ada dualisme Pencari tahu dan yang tahu aktif bersama, jadi tidak dapat dipisahkan
Kemungkinan generalisasi Generalisasi atas dasar bebas waktu dan bebas-konteks dimungkinkan (pernyataan nomotetik) Hanya waktu dan konteks yang mengikat hipotesis kerja (pernyataan idiografis) yang dimungkinkan.
Kemungkinan hubungan sebab akibat Terdapat penyebab sebenarnya yang secara temporer terhadap, atau secara simultan terhadap akibatnya Setiap kebutuhan berada dalam keadaan mempengaruhi secara bersama-sama sehingga sukar membedakan mana sebab dan mana akibat
Peranan nilai Inkuirinya bebas-nilai Inkuirinya terikat nilai
Apa itu Teori?
Kerlinger (1973) mendefinisikan teori sebagai sebuah set konsep atau construct yang berhubungan satu dengan yang lainnya, suatu set dari proposisi yang mengandung suatu pandangan sistematis dari fenomena.
Teori dengan demikian menyatakan hubungan sistematis dalam gejala sosial maupun natura yang ingin diteliti. Teori merupakan abstraksi dari pengertain atau hubungan dari proposisi atau dalil.
Nazir (2005) menguraikan tiga hal tentang teori sebagai berikut:
teori adalah sebuah set proposisi yang terdiri atas konstrak (construct) yang sudah didefinisikan secara luas dan dengan hubungan unsur-unsur dalam set tersebut secara jelas pula.
Teori menjelaskan hubungan antarvariabel atau antarkonstrak (construct) sehingga pandangan yang sisematis dari fenomena-fenomena yang diterangkan oleh variabel dengan jelas kelihatannya.
Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan variabel mana yang berhubungan dengan variabel mana.
Menuju penggabungan metode penelitian (mixing method)
Bryman (1988) menguraikan cara-cara penggabungan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif sebagai berikut:
Logika ’Triangulasi
Temuan-temuan dari satu jenis studi dapat dicek pada temuan-temuan yang diperoleh dari jenis studi yang lain. Misalnya, hasil-hasil penelitian kualitatif dapat dicek pada studi kuantitatif. Tujuannya secara umum adalah untuk memperkuat kesahihan temuan-temuan.
Penelitian kualitatif membantu penelitian kuantitatif
Penelitian kualitatif dapat membantu memberikan informasi dasar tentang konteks dan subyek, berlaku sebagai sumber hipotesis, dan membantu konstruksi skala.
Penelitian kuantitatif membantu penelitian kualitatif
Biasanya, ini berarti penelitian kuantitatif membantu dalam hal pemilihan subyek bagi penelitian kualitatif
Penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif digabungkan untuk memberikan gambaran umum
Penelitian kuantitatif dapat digunakan untuk mengisi kesenjangan-kesenjangan yang muncul dalam studi kualitatif. Karena, misalnya, peneliti tidak bisa berada pada lebih dari satu tempat di saat yang bersamaan. Jika tidak, mungkin tidak seluruh masalah dapat diterima semata bagi penelitian kuantitatif atau semata bagi penelitian kualitatif.
Struktur dan Proses
Penelitian kuantitatif terutama efisien pada penelusuran ciri-ciri ’struktural’ kehidupan sosial, sementara studi-studi kualitatif biasanya lebih kuat dalam aspek-aspek operasional. Kekuatan ini dapat dihadirkan bersama-sama dalam satu studi.
Perspektif peneliti dan perspektif subjek
Penelitian kuantitatif biasanya dikemudikan oleh perhatian peneliti, sementara penelitian kualitatif mengambil perspektif subyek sebagai titik tolak. Penekanan-penekanan ini dapat dihadirkan bersama-sama dalam satu studi.
Masalah kegeneralisasian
Kelebihan beberapa fakta kuantitatif dapat membantu menyederhanakan fakta ketika seringkali tidak ada kemungkinan menggeneralisasikan (dalam arti statistik) temuan-temuan yang diperoleh dari penelitan kualitatif.
Penelitian kualitatif dapat membantu interpretasi hubungan antara ubahan-ubahannya
Penelitian kuantitatif dengan mudah memberi jalan bagi peneliti untuk menentukan hubungan antara ubahan-ubahan, tetapi seringkali lemah ketika ia hadir untuk mengungkap alasan-alasan bagi hubungan-hubungan itu. Studi kualitatif dapat digunakan untuk membantu menjelaskan faktor-faktor yang mendasari hubungan yang terbangun.
Hubungan antara tingkat ’makro’ dan ’mikro’
Penggunaan penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat memberi sarana untuk menjembatani kesenjangan makro dan mikro. Penelitian kuantitatif sering dapat mengungkap ciri-ciri struktural kehidupan sosial skala besar. Sementara penelitian kualitatif cenderung menyentuh aspek-aspek behavioral skala kecil. Ketika penelitian berupaya mengungkap kedua tingkat itu, maka pemaduan penelitian kuantitatif dan kualitatif bisa menjadi keharusan.
Tahap-tahap dalam proses penelitian
Penelitian kuantiatif dan penelitian kualitatif bisa menjadi selaras untuk tahapan-tahapan yang berbeda dari suatu studi longitudinal.
Cangkokan
Contoh utama cenderung terjadi apabila penelitian kualitatif dilakukan dalam desain penelitian kuasi eksperimental (kuantitatif)
Bahan Bacaan:
Bryman, A. 1988. Quantity and Quality in Social Research. London: Unwin Hyman.
Guba, E.G. and Lincoln, Y.S. 1982. ’Epistemologi and Methodological bases of naturalistic inquiry’. Educational Communication and Tehnology Journal, 30, pp. 233-352
Ihalouw,J.J.O.I. 2000. Bagunan Teori. Salatiga: Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana.
Kerlinger, F.N. 1973. Foundation of Behavioral Research. 2nd ed. New York: Holt, Rinehart and Winsto Inc.
Kuhn, T.S. 2002. The Structure of Scientific Revolution. Alih Bahasa: Tjun Surjaman. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.
Nazir M. 2005. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Bogor.
Jumat, 02 Oktober 2009
17 Kesalahan Fatal Mahasiswa dalam Penelitian-nya
Tidak sedikit kawan-kawan yang proposal skripsi atau skripsi-nya ditolak/dicorat-coret oleh dosen pembimbing maupun penguji, namun tidak banyak dari kawan-kawan yang berusaha dengan keras mempertanyakan: apa, kenapa, dan bagaimana draft yang sudah dicetak sekian eksemplar dengan biaya yang begitu banyak di coret dan ditolak begitu saja.
Tidak jarang ada kawan yang frustasi dengan masalah ini, bahkan ada yang sampai mencari zimat keliling kampung, bagaimana caranya agar dosen bisa kasihan dan memberi pengertian, lalu dengan mantra-mantra itu dia berharap lulus dengan nilai ‘kasihan’. Kalau pun jurus perdukunan ini tidak mempan, sebagian diantara mahasiswa itu mencari jalan pintas alias jalan tikus yaitu dengan jalan mencari pasar-pasar yang memperjualbelikan skripsi baik secara langsung (face to face) ataupun lewat jasa internet. Mereka tidak berpikir berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk itu, yang pusing tujug keliling pastilah para orang tua mereka (biaya skripsi belum ditambah biaya-biaya fiktif).
Saya berharap hal ini tidak terjadi pada Anda atau pada orang-orang yang mengunjungi blog ini. Saya yakin bahwa tindakan-tindakan semacam itu terkadang membantu mempercepat penyelesaian studi, tetapi itu tidak selalu benar.
Sekarang tenangkan diri Anda sejenak, hilangkan semua pikiran-pikiran buruk Anda terhadap hasil kerja Anda selama ini, yakinkanlah diri Anda bahwa Anda mampu melakukan yang terbaik, dengan penuh kejujuran, dan tanggung jawab keilmuan yang Anda miliki. Katakan pada semua orang bahwa Anda bisa melakukannya. Hilangkan semua kata-kata minder dalam diri Anda, Biarkan saja orang menertawai karya Anda, yang jelas, mereka tidak memahami apa yang mereka tertawai…!
Saya yakin Anda pernah membaca Artikel saya tentang tips menemukan masalah dengan hasil yang spektakuler. Ini akan membantu kita dari awal, bagaimana memulai pekerjaan penelitian.
Ok, kalau kawanku sudah merasa nyaman, baca perlahan beberapa item berikut, jangan lupa siapkan draft skripsi atau proposal skripsi anda. Item berikut akan menyadarkan diri Anda, bagaimana caranya menilai hasil karya sendiri (self assessment), tidak ada satupun dosen atau guru yang maha tahu di dunia ini, mereka hanya minta penjelasan dari apa yang anda lakukan, sehingga orang-orang yang membaca karya Anda memahami apa yang Anda maksudkan.
Isaac dan Michael (1971:6-10) menguraikan item-item kesalahan yang sering bahkan umumnya dilakukan oleh para mahasiswa dalam merancang dan atau melakukan kerja penelitian sebagai berikut:
Kesalahan Umum dalam Memformulasikan Pelajaran Penelitian
*Menangguhkan pemilihan suatu masalah sampai ia menyelesaikan semua atau sebagian besar dari kuliah, pelatihan atau kursus yang diikuti.
*Secara tanpa kritik menerima gagasan yang pertama dan atau yang disampaikan kepadanya. Oleh rekan-rekan atau oleh dosen pembimbing.
*Memilih suatu masalah yang samar-samar atau memiliki pengertian yang luas untuk diteiliti satu per satu secara keseluruhan.
*Hipotesis yang dibuat tidak dapat diuji (un-testable) atau hipotesis yang disusun tidak jelas.
*Gagal dalam mempertimbangkan prosedur metode analisis yang sesuai dalam mengembangkan rencana sementara penelitian yang akan dilakukan
Kesalahan Dalam Melakukan Kajian Literatur
*Melakukan pengkajian literature atau buku bacaan di perpusatakan dengan begitu cepat (asal baca) berharap rancangan penelitiannya dapat terselesaian dengan cepat pula. Ini pada umumnya mengakibatkan studi pendahuluan yang berisi gagasan yang sudah pasti akan meningkatkan kerja penelitian mahasiswa terlewatkan begitu saja.
*Lebih mempercayai/memberatkan sumber kedua daripada sumber utama yang dibutuhkan dalam penelitiannya.
*Perhatiannya terkonsentrasi pada temuan penelitian ketika membaca artikel penelitian, dengan melewatkan informasi berharga atas metoda, ukuran, dan sebagainya.
*Mengabaikan sumber selain dari jurnal pendidikan, seperti surat kabar dan surat kabar populer sering berisi artikel dengan topik bidang pendidikan.
*Gagal untuk menggambarkan batas topik seputar review literature yang dibacanya. *Pencarian yang terlalu melebar pada suatu area sering memimpin mahasiswa ke arah melakukan yang salah atau ditakut-takuti menjadi suatu pekerjaan tak terurus. *Terlalu membatasi area pencarian juga menjadi suatu yang menyebabkan mahasiswa melewatkan artikel banyak orang yang berisi topik penelitian tetapi berisi informasi yang akan membantu dia mendisain suatu studi menjadi lebih baik..
*Mencopy data/teori dari daftar pustaka yang salah dan kemudian tidak mampu untuk menempatkan perlunya acuan itu.
*Menyalin terlalu banyak materi ke kartu catatan. Ini sering menunjukkan bahwa mahasiswa tidak mempunyai suatu pemahaman yang murni tentang penelitiannya dan dengan begitu tidak bisa memisahkan mana informasi yang penting dan informasi yang tidak penting
Kesalahan dalam Mengumpulkan Data Penelitian
*Memberikan upah kepada respoden untuk mendapatkan keterangan yang diharapkan dari mereka, hal ini sering dilakukan karena kekhawatiran mahasiswa akan penolakan responden untuk bekerjasama atau memberikan suatu sikap negative yang dapat mengurangi kebenaran test dan ukuran lainnya.
*Memperlemah rancangan penelitiannya dengan membuat perubahan demi kenyamanan administrative dari sekolah yang sedang ditelitinya (penelitiannya disesuaikan dengan keinginan pihak sekolah).
*Gagal dalam menjelaskan tujuan penggunaan ukuran penelitian kepada guru dan pengelola sekolah. Jika seorang guru berpikir bahwa suatu tes atau ukuran lainnya tidak berharga, maka sikapnya dengan cepat dapat dirasakan oleh para murid sehingga mengakibatkan lemahnya sikap kooperatif siswa dalam menjawab tes atau ukuran lain yang diajukan oleh mahasiswa (peneliti).
*Gagal dalam mengevaluasi alat ukur (instrument) yang digunakan secara menyeluruh sebelum memilih alat ukur yang akan digunakan dalam penelitiannya (menyangkut validitas dan reliabilitas instrument –pen). Hal ini mengakibatkan penggunaan alat ukur (instrument) yang tidak sesuai atau cacat.
*Memilih suatu alat ukur (instrument) yang rendah validitas dan reliabilitasnya dalam penelitian, hal semacam itu menyebabkan hasil penelitiannya juga keliru.
*Memilih untuk menggunakan alat ukur (instrument) yang tidak berkualitas dalam penelitiannya, yang mana alat ukur tersebut tidak berkualified dalam pengadministrasian dan penskoran.
Kesalahan Umum menggunakan Alat Ukur Baku
*Gagal untuk memeriksa validitas isi alat ukur prestasi belajar, dimana situasi penelitian diharapkan untuk dilaksanakan
*Gagal untuk menstandardisasi atau mengendalikan peran guru di (dalam) situasi pengumpulan data, oleh karena itu memperkenalkan penyimpangan sebagai hasil pembelajaran nonstandard, pelatihan sebagian dari para murid yang terlibat dalam studi, dan derajat variasi di (dalam) memberi bimbingan kepada para murid
*Meriksa keseluruhan validitas (keabsahan) dan reliabilitas (keandalan) alat ukur yang dipilih tetapi gagal untuk memeriksa valitdas dan reliabilitas data pada score subtest, sungguhpun score ini (diharapkan) untuk dapat digunakan dalam analisa hasil penelitian.
*Menggunakan pandangan pribadi dan laporan lain yang dibuat sendiri di (dalam) situasi di mana pokok materi yang diharapkan jawabannya dalam rangka menciptakan suatu kesan yang diinginkan.
*Mengasumsikan bahwa test baku yang digunakan akan dapat mengukur apa yang hendak diukur tanpa membuat suatu evaluasi validitas data yang seksama.
*Mencoba untuk menggunakan ukuran yang belum teruji validitas dan reliabilitasnya, untuk mengelola, meneliti, atau menginterpretasikan hasil penelitiannya.
*Gagal dalam membuat penggunaan hasil yang maksimum dari waktu tes yang tersedia dengan mengatur test yang panjang ketika waktu yang tersedia lebih pendek dalam memenuhi kebutuhan rancangan penelitian dengan sama baik.
*Tidak melakukan suatu uji coba tentang alat ukur ini dan, sebagai hasilnya, membuat keliru pemeriksaan prosedur sepanjang pengumpulan data pertama nya, dengan begitu ia telah melakukan penyimpangan (bias)
Kesalahan umum menggunakan rumus Statistik
*Memilih rumus statistik yang tidak sesuai atau yang benar untuk analisis diajukan.
*Mengumpulkan data penelitian, dan kemudian mencoba untuk temukan suatu teknik analisa statistik yang dapat digunakan.
*Menggunakan hanya satu prosedur statistik ketika beberapa pilihan diberlakukan bagi data itu. Ini sering mengakibatkan terlewatkannya hasil yang sudah dibuat dalam skripsi/tesis-disertasi itu.
*Menggunakan rumus statistik di dalam situasi di mana data yang nyata sekali gagal dalam menemukan asumsi dimana rumus statistic itu didasarkan. Rumus statistik akan memberi hasil yang sesuai/layak dan akurat kecuali jika asumsi (persyaratan uji statistic-pen) dengan serius dilanggar.
*Lalu menekankan pentingnya perbedaan kecil sebagai statistic yang signifikan
*Mahasiswa menghindari analisis korelasional jika korelasi product-moment tidak bisa diterapkan.
*Menggunakan teknik korelasi yang salah seperti, menggunakan korelasi biserial korelasi ketika korelasi biserial yang tersebar luas disebutkan.
*Menggunakan table korelasi product-moment untuk menginterpretasikan korelasi yang bukan korelasi Pearsonian. Sebab korelasi non-Pearsonian mempunyai suatu kesalahan standard lebih besar dibanding korelasi product-moment, kekeliruan ini mengakibatkan kesalahan tafsir atas arti koefisien yang ditafsirkan.
*Menggunakan koreksi untuk pelaifan pada situasi di mana itu tidak sesuai dalam rangka membuat hasil statistik nampak signifikan.
Kesalahan Umum di (dalam) Rancangan Dan Metodologi Penelitian
*Mahasiswa gagal untuk menggambarkan populasi penelitiannya
*Menggunakan sample yang sedikit untuk melakukan analisa terhadap sub-kelompok yang menarik baginya
*Mencoba untuk melakukan penelitian yang menggunakan responden sukarela
*Mengubah rancangannya dengan jalan memperlemah penelitiannya dalam rangka pengumpulan data yang lebih menyenangkan untuk melibatkan sekolah.
*Dalam mengumpulkan data sebanyak mungkin, ia membuat permintaan berlebihan atas inti penelitiannya yang mengakibatkan penolakan responden untuk bekerja sama.
*Mencoba untuk menyelesaikan suatu studi di dalam satu semester yang akan memerlukan dua/tiga tahun untuk dilakukan dengan memuaskan
*Gagal untuk merencanakan pengumpulan data yang detail dan jelas untuk menghindari perbaikan kesalahan berlebihan.
*Memulai mengumpulkan data penelitian tanpa menyelesaikan suatu studi-pendahuluan atau cukup menguji instrumen dan prosedurnya.
-------------------------------------------------------->Bersambung….!
Tidak jarang ada kawan yang frustasi dengan masalah ini, bahkan ada yang sampai mencari zimat keliling kampung, bagaimana caranya agar dosen bisa kasihan dan memberi pengertian, lalu dengan mantra-mantra itu dia berharap lulus dengan nilai ‘kasihan’. Kalau pun jurus perdukunan ini tidak mempan, sebagian diantara mahasiswa itu mencari jalan pintas alias jalan tikus yaitu dengan jalan mencari pasar-pasar yang memperjualbelikan skripsi baik secara langsung (face to face) ataupun lewat jasa internet. Mereka tidak berpikir berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk itu, yang pusing tujug keliling pastilah para orang tua mereka (biaya skripsi belum ditambah biaya-biaya fiktif).
Saya berharap hal ini tidak terjadi pada Anda atau pada orang-orang yang mengunjungi blog ini. Saya yakin bahwa tindakan-tindakan semacam itu terkadang membantu mempercepat penyelesaian studi, tetapi itu tidak selalu benar.
Sekarang tenangkan diri Anda sejenak, hilangkan semua pikiran-pikiran buruk Anda terhadap hasil kerja Anda selama ini, yakinkanlah diri Anda bahwa Anda mampu melakukan yang terbaik, dengan penuh kejujuran, dan tanggung jawab keilmuan yang Anda miliki. Katakan pada semua orang bahwa Anda bisa melakukannya. Hilangkan semua kata-kata minder dalam diri Anda, Biarkan saja orang menertawai karya Anda, yang jelas, mereka tidak memahami apa yang mereka tertawai…!
Saya yakin Anda pernah membaca Artikel saya tentang tips menemukan masalah dengan hasil yang spektakuler. Ini akan membantu kita dari awal, bagaimana memulai pekerjaan penelitian.
Ok, kalau kawanku sudah merasa nyaman, baca perlahan beberapa item berikut, jangan lupa siapkan draft skripsi atau proposal skripsi anda. Item berikut akan menyadarkan diri Anda, bagaimana caranya menilai hasil karya sendiri (self assessment), tidak ada satupun dosen atau guru yang maha tahu di dunia ini, mereka hanya minta penjelasan dari apa yang anda lakukan, sehingga orang-orang yang membaca karya Anda memahami apa yang Anda maksudkan.
Isaac dan Michael (1971:6-10) menguraikan item-item kesalahan yang sering bahkan umumnya dilakukan oleh para mahasiswa dalam merancang dan atau melakukan kerja penelitian sebagai berikut:
Kesalahan Umum dalam Memformulasikan Pelajaran Penelitian
*Menangguhkan pemilihan suatu masalah sampai ia menyelesaikan semua atau sebagian besar dari kuliah, pelatihan atau kursus yang diikuti.
*Secara tanpa kritik menerima gagasan yang pertama dan atau yang disampaikan kepadanya. Oleh rekan-rekan atau oleh dosen pembimbing.
*Memilih suatu masalah yang samar-samar atau memiliki pengertian yang luas untuk diteiliti satu per satu secara keseluruhan.
*Hipotesis yang dibuat tidak dapat diuji (un-testable) atau hipotesis yang disusun tidak jelas.
*Gagal dalam mempertimbangkan prosedur metode analisis yang sesuai dalam mengembangkan rencana sementara penelitian yang akan dilakukan
Kesalahan Dalam Melakukan Kajian Literatur
*Melakukan pengkajian literature atau buku bacaan di perpusatakan dengan begitu cepat (asal baca) berharap rancangan penelitiannya dapat terselesaian dengan cepat pula. Ini pada umumnya mengakibatkan studi pendahuluan yang berisi gagasan yang sudah pasti akan meningkatkan kerja penelitian mahasiswa terlewatkan begitu saja.
*Lebih mempercayai/memberatkan sumber kedua daripada sumber utama yang dibutuhkan dalam penelitiannya.
*Perhatiannya terkonsentrasi pada temuan penelitian ketika membaca artikel penelitian, dengan melewatkan informasi berharga atas metoda, ukuran, dan sebagainya.
*Mengabaikan sumber selain dari jurnal pendidikan, seperti surat kabar dan surat kabar populer sering berisi artikel dengan topik bidang pendidikan.
*Gagal untuk menggambarkan batas topik seputar review literature yang dibacanya. *Pencarian yang terlalu melebar pada suatu area sering memimpin mahasiswa ke arah melakukan yang salah atau ditakut-takuti menjadi suatu pekerjaan tak terurus. *Terlalu membatasi area pencarian juga menjadi suatu yang menyebabkan mahasiswa melewatkan artikel banyak orang yang berisi topik penelitian tetapi berisi informasi yang akan membantu dia mendisain suatu studi menjadi lebih baik..
*Mencopy data/teori dari daftar pustaka yang salah dan kemudian tidak mampu untuk menempatkan perlunya acuan itu.
*Menyalin terlalu banyak materi ke kartu catatan. Ini sering menunjukkan bahwa mahasiswa tidak mempunyai suatu pemahaman yang murni tentang penelitiannya dan dengan begitu tidak bisa memisahkan mana informasi yang penting dan informasi yang tidak penting
Kesalahan dalam Mengumpulkan Data Penelitian
*Memberikan upah kepada respoden untuk mendapatkan keterangan yang diharapkan dari mereka, hal ini sering dilakukan karena kekhawatiran mahasiswa akan penolakan responden untuk bekerjasama atau memberikan suatu sikap negative yang dapat mengurangi kebenaran test dan ukuran lainnya.
*Memperlemah rancangan penelitiannya dengan membuat perubahan demi kenyamanan administrative dari sekolah yang sedang ditelitinya (penelitiannya disesuaikan dengan keinginan pihak sekolah).
*Gagal dalam menjelaskan tujuan penggunaan ukuran penelitian kepada guru dan pengelola sekolah. Jika seorang guru berpikir bahwa suatu tes atau ukuran lainnya tidak berharga, maka sikapnya dengan cepat dapat dirasakan oleh para murid sehingga mengakibatkan lemahnya sikap kooperatif siswa dalam menjawab tes atau ukuran lain yang diajukan oleh mahasiswa (peneliti).
*Gagal dalam mengevaluasi alat ukur (instrument) yang digunakan secara menyeluruh sebelum memilih alat ukur yang akan digunakan dalam penelitiannya (menyangkut validitas dan reliabilitas instrument –pen). Hal ini mengakibatkan penggunaan alat ukur (instrument) yang tidak sesuai atau cacat.
*Memilih suatu alat ukur (instrument) yang rendah validitas dan reliabilitasnya dalam penelitian, hal semacam itu menyebabkan hasil penelitiannya juga keliru.
*Memilih untuk menggunakan alat ukur (instrument) yang tidak berkualitas dalam penelitiannya, yang mana alat ukur tersebut tidak berkualified dalam pengadministrasian dan penskoran.
Kesalahan Umum menggunakan Alat Ukur Baku
*Gagal untuk memeriksa validitas isi alat ukur prestasi belajar, dimana situasi penelitian diharapkan untuk dilaksanakan
*Gagal untuk menstandardisasi atau mengendalikan peran guru di (dalam) situasi pengumpulan data, oleh karena itu memperkenalkan penyimpangan sebagai hasil pembelajaran nonstandard, pelatihan sebagian dari para murid yang terlibat dalam studi, dan derajat variasi di (dalam) memberi bimbingan kepada para murid
*Meriksa keseluruhan validitas (keabsahan) dan reliabilitas (keandalan) alat ukur yang dipilih tetapi gagal untuk memeriksa valitdas dan reliabilitas data pada score subtest, sungguhpun score ini (diharapkan) untuk dapat digunakan dalam analisa hasil penelitian.
*Menggunakan pandangan pribadi dan laporan lain yang dibuat sendiri di (dalam) situasi di mana pokok materi yang diharapkan jawabannya dalam rangka menciptakan suatu kesan yang diinginkan.
*Mengasumsikan bahwa test baku yang digunakan akan dapat mengukur apa yang hendak diukur tanpa membuat suatu evaluasi validitas data yang seksama.
*Mencoba untuk menggunakan ukuran yang belum teruji validitas dan reliabilitasnya, untuk mengelola, meneliti, atau menginterpretasikan hasil penelitiannya.
*Gagal dalam membuat penggunaan hasil yang maksimum dari waktu tes yang tersedia dengan mengatur test yang panjang ketika waktu yang tersedia lebih pendek dalam memenuhi kebutuhan rancangan penelitian dengan sama baik.
*Tidak melakukan suatu uji coba tentang alat ukur ini dan, sebagai hasilnya, membuat keliru pemeriksaan prosedur sepanjang pengumpulan data pertama nya, dengan begitu ia telah melakukan penyimpangan (bias)
Kesalahan umum menggunakan rumus Statistik
*Memilih rumus statistik yang tidak sesuai atau yang benar untuk analisis diajukan.
*Mengumpulkan data penelitian, dan kemudian mencoba untuk temukan suatu teknik analisa statistik yang dapat digunakan.
*Menggunakan hanya satu prosedur statistik ketika beberapa pilihan diberlakukan bagi data itu. Ini sering mengakibatkan terlewatkannya hasil yang sudah dibuat dalam skripsi/tesis-disertasi itu.
*Menggunakan rumus statistik di dalam situasi di mana data yang nyata sekali gagal dalam menemukan asumsi dimana rumus statistic itu didasarkan. Rumus statistik akan memberi hasil yang sesuai/layak dan akurat kecuali jika asumsi (persyaratan uji statistic-pen) dengan serius dilanggar.
*Lalu menekankan pentingnya perbedaan kecil sebagai statistic yang signifikan
*Mahasiswa menghindari analisis korelasional jika korelasi product-moment tidak bisa diterapkan.
*Menggunakan teknik korelasi yang salah seperti, menggunakan korelasi biserial korelasi ketika korelasi biserial yang tersebar luas disebutkan.
*Menggunakan table korelasi product-moment untuk menginterpretasikan korelasi yang bukan korelasi Pearsonian. Sebab korelasi non-Pearsonian mempunyai suatu kesalahan standard lebih besar dibanding korelasi product-moment, kekeliruan ini mengakibatkan kesalahan tafsir atas arti koefisien yang ditafsirkan.
*Menggunakan koreksi untuk pelaifan pada situasi di mana itu tidak sesuai dalam rangka membuat hasil statistik nampak signifikan.
Kesalahan Umum di (dalam) Rancangan Dan Metodologi Penelitian
*Mahasiswa gagal untuk menggambarkan populasi penelitiannya
*Menggunakan sample yang sedikit untuk melakukan analisa terhadap sub-kelompok yang menarik baginya
*Mencoba untuk melakukan penelitian yang menggunakan responden sukarela
*Mengubah rancangannya dengan jalan memperlemah penelitiannya dalam rangka pengumpulan data yang lebih menyenangkan untuk melibatkan sekolah.
*Dalam mengumpulkan data sebanyak mungkin, ia membuat permintaan berlebihan atas inti penelitiannya yang mengakibatkan penolakan responden untuk bekerja sama.
*Mencoba untuk menyelesaikan suatu studi di dalam satu semester yang akan memerlukan dua/tiga tahun untuk dilakukan dengan memuaskan
*Gagal untuk merencanakan pengumpulan data yang detail dan jelas untuk menghindari perbaikan kesalahan berlebihan.
*Memulai mengumpulkan data penelitian tanpa menyelesaikan suatu studi-pendahuluan atau cukup menguji instrumen dan prosedurnya.
-------------------------------------------------------->Bersambung….!
Langganan:
Komentar (Atom)